Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan dirinya
terhadap Aisyah sebagaimana Abu Zar’ agar Aisyah sebagaimana Abu Zar’
terhadap istrinya Ummu Zar’ agar Aisyah tahu sayangnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada dirinya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah diriku bagimu sebagaimana Abu Zar’ bagi Ummu Zar’ “. Berkata Imam An-Nawawi, “Para ulama berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata demikian untuk menyenangkan hati Aisyah dan menjelaskan bahwa
ia telah bersikap baik dalam kehidupan rumah tangga bersama Aisyah.”[1]
Bagaimanakah kisah Abu Zar’ dan Ummu Zar’?, marilah kita simak tuturan Ummul mukminin Aisyah[2] beserta penjelasan kisah mereka yang dirangkum dari kitab Fathul Bari[3], serta Faidah yang di ambil dari beberapa sumber[4].
((Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan
bersepakat untuk tidak menyembunyikan sedikitpun kabar tentang suami
mereka. Maka wanita pertama berkata, “ Sesungguhnya suamiku adalah daging unta yang kurus[5] yang berada di atas puncak gunung yang tanahnya berlumpur[6] yang tidak mudah untuk di daki dan dagingnya juga tidak gemuk untuk diambili.”))
Maksudnya adalah sang wanita memisalkan keburukan akhlak suaminya
seperti gunung terjal, yang sulit untuk di daki, demikian juga sifat
sombong suaminya yang merasa di atas. Dan menyamakan suaminya yang pelit
dengan daging unta yang kurus. Daging unta tidak sama dengan daging
kambing karena daging unta rasanya kurang enak, oleh karena itu banyak
orang yang tidak begitu senang dengan daging unta. Orang-orang lebih
mendahulukan daging kambing kemudian daging sapi baru kemudian daging
unta. Ditambah lagi dagingnya dari unta yang kurus. Lebih parah lagi
daging tersebut memiliki bau yang kurang enak. Yaitu meskipun sang istri
butuh terhadap apa yang dimiliki suaminya namun ia tahu bahwa suaminya
pelit, kalau ia meminta dari suaminya maka akan sangat sulit sekali
untuk diberi, kalaupun diberi hanyalah sedikit karena pelitnya suaminya,
ditambah lagi akhlak suaminya yang sombong lagi merasa tinggi.
Peringatan
Terkadang akhlak yang jelek yang timbul dari seorang istri adalah
akibat jeleknya akhlak sang suami. Terkadang sang suamilah yang secara
tidak langsung mengajar sang istri untuk pandai berbohong. Bagaimana
bisa…??? Jika sang suami adalah suami yang pelit, tidak memberikan
nafkah yang cukup kepada istrinya maka istrinya akan berusaha mencuri
uang suaminya yang pelit tersebut, dan jika ditanya oleh suaminya maka
ia akan berbohong. Lama kelamaan pun karena terbiasa akhirnya ia menjadi
tukang bohong. Padahal jika seorang suami menampakkan pada istrinya
bahwasanya ia tidak pelit, dan memberikan kepada istrinya suatu yang
bernilai meskipun hanya sedikit, maka hal ini menjadikan sang istri
percaya kepadanya dan mendukung sang istri untuk menjadi wanita yang
shalihah.
Bukankah sekecil apapun harta yang ia keluarkan untuk memberi nafkah
kepada istrinya maka ia akan mendapatkan pahala, bahkan sesuap nasi yang
ia berikan kepada istrinya!!??
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya bagaimanapun nafkah yang kau berikan kepada istrimu
maka ia merupakan sedekah, bahkan sesuap makanan yang engkau suapkan ke
mulut istrimu.[7]
Dalam riwayat Muslim[8],
“Dan tidaklah engkau memberi nafkah dengan mengharapkan wajah
Allah kecuali engkau mendapatkan pahala, bahkan sampai sesuap makanan
yang engkau letakkan di mulut istrimu.”
Berkata An-Nawawi, “ Seorang suami meletakkan sesuap makanan di mulut
istrinya, biasanya hal ini terjadi tatkala sang suami sedang mencumbui,
bercanda, dan berlezat-lezat dengan perkara yang diperbolehkan (dengan
istrinya). Kondisi seperti ini sangat jauh dari bentuk ketaatan (bentuk
ibadah) dan perkara-perkara akhirat. Meskipun demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengabarkan jika sang suami menghendaki wajah Allah dengan suapan yang
ia berikan kepada istrinya maka ia akan mendapatkan pahala.”[9]
Berkata Ibnu Hajar, “ Perkara yang mubah jika diniatkan karena Allah maka jadilah ia merupakan ketaatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengingatkan perkara dunia yang sangat ringan dan biasa yaitu
menyuap istri dengan sesuap makanan, yang hal ini biasanya terjadi
tatkala sang suami sedang mencumbu dan mencandai sang istri, namun
meskipun demikian ia mendapatkan pahala jika berniat yang baik. Maka bagaimana lagi jika pada perkara-perkara yang lebih dari itu…!!!”[10]
Apalagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa memberi nafkah kepada istri merupakan amalan yang sangat besar pahalanya di sisi Allah.
Sekeping dinar yang engkau infakkan pada jihad fi sabilillah,
sekeping dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, sekeping
dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan sekeping dinar
yang engkau infakkan kepada istrimu, maka yang paling besar pahalanya
adalah sekeping dinar yang engkau infakkan kepada istrimu,[11]
((Wanita yang kedua berkata “
Suamiku…aku tidak akan menceritakan tentang kabarnya, karena jika aku
kabarkan tentangnya aku khawatir aku (tidak mampu) meninggalkannya. Jika
aku menyebutkan tentangnya maka aku akan menyebutkan urat-uratnya yang
muncul di tubuhnya dan juga perutnya.”[12]))
Maksudnya yaitu jika ia menceritakan tentang kabar suaminya maka ia
akan menyebutkan aibnya yang banyak sekali baik aib yang nampak maupun
yang tersembunyi. Aib yang nampak ia ibaratkan dengan urat-uratnya yang
muncul dan nampak di tubuhnya, adapun aib yang tersembunyi diibaratkan
seperti urat yang timbul di perutnya yang tidak dilihat oleh orang
karena tertutup pakaian. Dan jika suaminya tahu bahwa ia membeberkan
aib-aib suaminya maka ia akan di cerai oleh suaminya padahal ia tidak
siap untuk ditinggal suaminya. Intinya yaitu ia mengeluhkan suaminya
yang banyak aibya dan kaku serta tidak murah hati.
Faidah :
Hendaknya istri semangat untuk tetap bisa bersama suami meskipun pada suami terdapat beberapa aib.
((Wanita yang ketiga berkata, “ Suamiku tinggi, jika aku berucap maka aku akan dicerai, dan jika aku diam maka aku akan digantung.”))
Ada dua penafsiran dari perkataan wanita yang ketiga ini,
Pertama :
Maksud dari suaminya yang tinggi yaitu suaminya keras dan tegas,
dialah yang mengatur dirinya dan tidak mau diatur orang lain, sehingga
suaminyalah yang mengaturnya dan dia (sang istri) tidak bisa
mengaturnya, oleh karena itu ia takut pada suaminya.
Jika ia menyebutkan aib-aib suaminya lalu hal ini sampai kepadanya
maka ia akan dicerai. Namun jika ia berdiam diri maka ia tergantung
terkatung-katung, seperti tidak punya suami dan sekaligus bukan wanita
yang tidak bersuami. Seakan-akan ia berkata, “Aku disisi suamiku seperti
tidak bersuami karena aku tidak bisa mengambil manfaat dari suamiku,
dan tidak juga aku dicerai agar aku bisa lepas darinya dan mencari suami
yang lain.”
Kedua :
Yaitu ia menjelaskan akan buruknya suaminya yang tidak sabaran jika
mendengar keluhan-keluhannya. Ia mengetahui jika ia mengeluh kepada
suaminya maka sang suami langsung mencerikannya dan ia tidak ingin
dicerai karena cintanya yang dalam kepada suaminya. Namun jika ia
berdiam diri maka ia akan tersiksa karena seperti wanita yang tidak
bersuami padahal ia bersuami.
Faidah :
Suami yang shaleh adalah suami yang dekat kepada istrinya, yang bisa
menjadi tempat mencurahkan hati istrinya, dan bukan yang ditakuti
istrinya.
((Wanita yang keempat berkata, “ Suamiku seperti malam di Tihamah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada ketakutan dan tidak ada rasa bosan.”))
Tihamah adalah daerah yang dikelilingi gunung-gunung dan
daerah yang mayoritas musimnya terasa panas dan tidak ada angin segar
yang bertiup. Namun pada malam hari panas tersebut tidak begitu terasa
maka penduduknya akan merasa nyaman dan nikmat jika dibanding keadaan
mereka di siang hari.
Maksud dari sang wanita adalah menceritakan tentang kondisi suaminya
yang seimbang, tidak ada gangguan dari suaminya dan tidak ada sesuatu
yang di bencinya sehingga tidak membosankan untuk terus bersamanya.
Sehingga ia merasa aman karena tidak takut gangguan suaminya sehingga
kehidupannya nyaman sebagaimana kehidupan penduduk Tihamah tatkala di
malam hari.
((Wanita yang kelima berkata, “Suamiku
jika masuk rumah seperti macan dan jika keluar maka seperti singa dan
tidak bertanya apa yang telah diperbuatnya (yang didapatinya).”))
Dan macan kuat namun suka tidur.
Ada dua kemungkinan makna yang terkandung dari perkataan wanita yang kelima ini.
Pertama adalah pujian (dan ini adalah pendapat mayoritas pensyarah hadits ini)
Yaitu suaminya jika masuk ke dalam rumah menemuinya maka seperti
macan yang kuat yang menerkam dengan kuat. Maksudnya yaitu sang suami
sering menjimaknya yang menunjukkan bahwa ia sangat dicintai suaminya
sehingga jika suaminya melihatnya maka tidak sabar dan ingin langsung
menerkamnya untuk menjimaknya. Dan jika keluar rumah maka seperti singa
yang pemberani.
Ia tidak pernah bertanya tentang apa yang telah dikeluarkannya yang
menunjukkan ia adalah suami yang baik yang sering bersedekah dan tidak
peduli dengan sedekah yang ia keluarkan. Atau jika ia masuk ke dalam
rumah maka ia tidak peduli dengan aib-aib yanag terdapat dalam rumah.
Faidah :
Termasuk sifat suami yang baik adalah tidak ikut campur dengan
istrinya dalam mengatur urusan rumah, oleh karena itu jika ia melihat
perubahan-perubahan atau keganjilan-keganjilan dalam rumahnya hendaknya
ia pura-pura tidak tahu, ia membiarkan istrinya lah yang menangani hal
itu. Atau jika ia memang harus bertanya kepada istrinya tentang
keganjilan yang timbul maka hendaknya ia bertanya dengan lembut.
Disebutkan bahwa diantara sifat macan adalah banyak tidur sehingga
sering lalai dari mangsa yang terkadang berada di hadapannya. Ini
merupakan isyarat bahwa sang suami adalah orang yang kuat namun sering
tidak ikut campur dalam urusan sang istri dalam mengatur runah. Inilah
makna dari perkataan sang wanita, “tidak bertanya apa yang didapatinya.”[13]
Disebutkan juga bahwa seorang Arab ditanya, “ Siapakah yang disebut dengan orang yang pandai? “, maka ia menjawab “ Orang yang mengerti namun berpura-pura tidak tahu.”
Betapa banyak permasalahan rumah tangga yang timbul karena sang suami
terlalu detail dalam menghadapi istrinya, segala yang terjadi di
rumahnya bahkan sampai perkara-perkara yang sepele dan ringan ia
tanyakan, ia cek pada istrinya. Akhirnya timbullah permasalahan dan
cekcok antara dia dan istrinya. Kalau seandainya ia sedikit berpura-pura
tidak tahu,terutama pada perkara-perkara yang ringan maka akan banyak
permasalahan yang bisa diselesaikan, bahkan hanya dengan salam. Bahkan
sebagian kesalahan-kesalahan yang ringan yang dilakukan oleh sang istri
–dan sang istri menyadari bahwa ia telah bersalah- jika dibiarkan saja
oleh sang suami maka akan selesai dengan sendirinya. Oleh karena itu
seorang yang cerdik adalah yang menerapkan sifat pura-pura tidak tahu
pada beberapa permasalahan keluarga yang dihadapinya terutama
permasalahan-permasalahan yang ringan[14]. Sifat inilah yang disebut dengan mudaraah (pura-pura tidak tahu atau basa-basi) dan akan datang penjelasannya.
Kedua adalah celaan
Yaitu suaminya jika masuk ke dalam rumah seperti macan dimana jika
suaminya menjimaknya maka langsung terkam tanpa dibuka dengan cumbuan
dan rayuan karena sifatnya yang keras seperti macan. Atau karena
sifatnya yang jelek sehingga kalau masuk ke dalam rumah sering
memukulnya dan menamparnya. Dan jika keluar rumah maka seperti singa
yang lebih keras lagi dan lebih berani lagi. Dan jika ia masuk rumah
maka ia tidak bertanya-tanya, yaitu sang suami tidak pernah perduli
dengan keadaan istrinya dan juga urusan rumahnya.
Faidah:
Suami yang baik adalah yang selalu bertanya kepada istrinya tentang
kondisi istrinya meskipun sang istri tidak menampakkan tanda-tanda
perubahan, yang hal ini menyebabkan sang istri merasa bahwa ia sangatlah
diperhatikan oleh suaminya.
=Bersambung insya Allah=