my album exact 3

my album exact 3
is the best

is the best

Kamis, 16 Desember 2010

Al-Zinah Dalam al-Qur’an

Al-Raghib al-Ashfahani membagi al-zinah secara umum kepada tiga macam, yaitu: (1). Zinah nafsyiah, berupa ilmu serta keyakinan-keyakinan atau kebiasaan – kebiasaan yang baik, (2). Zinah badaniyyah, berupa kekuatan dan perawakan tubuh yang seimbang, (3). Zinah Kharijiyyah, berupa harta dan kehormatan. ( Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an : 223). Nampak definisi yang dipaparkan al-Raghib jelas dan rinci meski secara sekilas mempunyai makna yang senada, al-Ragib juga menambahkan bahwa perhiasan itu berlaku di dunia dan di akhirat.


Selanjutnya menurut Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqiy dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an, kata al-zinah dan derivasinya berulang sebanyak 47 kali, terdapat pada 27 surat dan 44 ayat.( al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an : 335).

Maka di antara makna-makna al-zinah dalam al-Qur’an adalah:

1. Perhiasan yang menyebabkan kedurhakaan, kelalaian dan kesombongan.

Ayat yang menjelaskan makna zinah di atas terdapat pada empat ayat diantaranya, Qs. Yunus : 88, al-Qashash : 79, 60, al-Hadid : 20. “ Musa berkata : Tuhan kami sesungguhnya engkau telah menganugrahkan kepada fir’aun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Tuhan kami, (itu mengakibatkan) mereka menyesatkan manusia dari jalan-Mu, Tuhan kami, binasakanlah harta dan benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” Qs. Yunus : 88. ayat diatas menjelaskan harta yang dimiliki oleh fir’aun telah membawanya kepada kesombongan, keduharkaan dan kelalaian seingga tidak mau mengakui akan keesaan Allah Swt.

2. Perhiasan yang menjadikan manusia lalai kepada kehidupan akhirat.

Di antara ayat yang membahas makna zinah dalam arti di atas Qs. Al-ahzab : 28, artinya “ Hai Nabi, katakanlah kepada pasangan-pasanganmu jika mereka mengiginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepada kamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan perceraian yang baik. Kemudian Qs. Hud : 15, artinya “ barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami sempurnakan bagi mereka pekerjaan-pekerjaan mereka disana dan mereka di sana tidak akan dirugikan.”

Sepintas lalu dilihat makna kata zinah tidak menunjukkan keterlenaan manusia terhadap perhiasan-perhiasan yang dijelaskan, namun jika diteliti lebih lanjut akan terlihat ada gelagat yang menunjukkan perhiasan tersebut mempunyai potensi untuk melalaikan manusia terhadap kehidupan akhirat.

Quraish Shihab menjelaskan Qs. Al-Ahzab : 28, ayat ini turun berkaitan dengan besarnya porolehan kaum muslimin dari kekayaan bani Quraizhah, yang dijatuhi hukuman oleh Nabi sebagaimana diterangkan oleh ayat sebelumnya, kemudian sebelum bani Quraizhah, kaum muslimin juga mendapatkan kekayaan orang yahudi yaitu bani Nadhir yang juga mengkianati Nabi Saw, setelah Allah menetapkan seperlima buat Rasul dari harta rampasan tersebut muncullah keinginan dihati istri-istri beliau, kekayaan yang melimpah menjadikan istri-istri Nabi merasa mereka akan mendapatkan tambahan nafkah. Maka Allah memerintahkan kepada Rasul untuk memberi pilihan kepada istri-istri beliau, apakah mengiginkan perhiasan dunia atau mereka akan diceraikan secara baik-baik. Nah ayat ini turun adalah untuk mendidik istri-istri Nabi Saw, agar hidup sederhana dan tidak menjadikan perhiasan dunia sebagai perhatian yang besar, yang dapat dapat melelaikan mereka kepada kehidupan akhirat. (Tafsir al-Mishbah : 225).

Selanjutnya QS. Hud : 15, menurut sebagian ulama diperuntukkan untuk orang-orang suka pamer (riya’). Sedangkan menurut riwayat Anas bin Malik diperuntukkan kepada kaum Yahudi dan Nashrani, mereka itu apabila memberikan harta kepada orang lain atau mengunjungi saudaranya dengan tujuan riya’. (al-Kasysyaf : 262.)

3. Perhiasan tertentu

Perhiasan dengan makna tertentu ialah ia mempunyai makna yang khusus bukan dalam makan yang luas. Kata zinah dalam bentuk ini sangat banyak terdapat dalam al-Qur’an, diantaranya: Qs. Al-Nur : 31 artinya, katakanlah kepada wanita-wanita mukminah hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan hiasan mereka kecuali yang biasa nampak. Dan hendaklah mereka menutup kerudung mereka hingga dada mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka…

Kata zinah yang terdapat pada ayat di atas dimaknai dengan anggota tubuh tempat perhiasan yang dipakai oleh parempuan. Zamakhsyari menjelaskan bahwa pentingnya anggota-anggota tempat perhiasan itu untuk ditutup.(al-Khasysyaf : 61). Ayat diatas menerangkan hal yang harus dijaga dan ditutup oleh kaum perempuan, yang pertama perempuan dilarang untuk memperlihatkan anggota tubuhnya kecuali yang biasa nampak. Selanjutnya al-zamakhsyari bahwa waniata harus menutup anggota tubuh tempat memasang gelang kaki, ( al-Kasysyaf : 63), Quraish mengartikan dengan lebih luas lagi yaitu anggota tubuh sebagai tempat gelang kaki dan hiasan lainnya yang tampak akibat suara yang lahir dari cara berjalan perempuan itu. (al-Mishbah : 327)

4. Perhiasan dalam arti majazi

Perhiasan dalam arti majazi, bahwa kata zinah tidak diartikan dengan perhiasan yang sebenartnya, tetapi diartikan dengan makna lain, namun pada dasarnya ada benang merah antara keduanya. Hal ini terlihat dalam QS. Thaha : 59, artinya : Dia berkata : waktu kamu adalah di Yaum al-zinah (hari raya), dan hendaklah manusi dikumpulkan pada waktu dhuha.

Mayoritas mufasir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan yaum al-Zinah pada ayat di atas adalah hari raya. Perpalingan dari makna hakiki kepada makna majazi mungkin dikarenakan makna dari asal perhiasan itu adalah sesuatu yang tidak membuat seseorang ternoda, cacat atau tampak kekurangan. Nah apabila dikaitkan dengan hari raya maka akan tampak sisi kesamaannya, dimana pada hari raya orang tidak mengunakan sesuatu yang membuat tercela, cacat, ataupun berkekurangan, selanjutnya Quraish menerangkan zinah adalah sesiuatu yang dipandang indah oleh manusia. Apabila perhiasan adalah sesuatu yang dipandnag indah oleh masnusia, maka hari raya merepukan suatu hari yang dipandang istimewa oleh masyarakat pada waktu itu.

Demikianlah uraian singkat tentang makna zinah yang terdapat dalam al-Qur’an, semoga penjelasan ini dapat mengingatkna kita bahwa perhiasan dunia dapat membawa kita kepada melupakan Allah sang pemilik perhiasan tersebut.

Selasa, 30 November 2010

Prinsip Aqidah Islam

Dasar Aqidah Islam adalah Iman kepada Allah, Iman kepada para Malaikat-Nya, Iman kepada kitab-kitab-Nya, Iman kepada para nabi dan rasul-Nya, Iman kepada hari akhir,serta Iman kepada takdir yang baik dan buruk, sebagaimana telah ditunjukkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Allah berfirman dalam kitab suci-Nya,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ باِللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَالْمَلَئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّنَ..

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaiakt, kitab-kitab, nabi-nabi (QS. Al Baqarah, 177)

Diantara keimanan tersebut yang tertinggi adalah mengimani Allah, karena hal ini sangatlah penting dan wajib hukumnya demi merealisasikan pengesaan terhadap Allah dan menyempurnakan kecintaan kepada Allah, serta merealisasikan ibadah kepada Allah semata.

Iman kepada Allah mengandung empat unsur, yaitu:

1. Mengimani Wujud Allah

Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’ dan indera.

Bukti Fithrah tentang wujud Allah adalah, bahwa iman kepada Sang Pencipta merupakan fithrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berfikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntutan fithrah ini, kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang dapat memalingkannya. Rasulullah e bersabda, “Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah, ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani atau Majusi.” [HR. Al Bukhaari]

Bukti Akal tentang wujud Allah adalah proses terjadinya semua makhluk, bahwa semua makhluk, yang terdahulu, sekarang maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri dan tidak mungkin pula tercipta secara kebetulan. Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan, karena setiap yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta. Adanya makhluk-makhluk tersebut di atas undang-undang yang indah, tersusun rapi dan saling terkait dengan erat antara sebab dan musababnya. Semua itu menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena sesuatu yang ada karena kebetulan, pada awalnya tidak teratur. Kalau makhluk tidak dapat menciptakan dirinya sendiri dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, bahwa makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb Semesta Alam.

Allah menyebutkan dalil aqli (akal) dan dalil qath’i di dalam Al Qur-an,

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ - أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بَل لاَّيُوقِنُونَ - أَمْ عِندَهُمْ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (QS. Ath-Thur, 35-37)

Sebagai contoh, ketika ada orang yang datang kepada Anda dan bercerita tentang istana yang dibangun, dikelilingi kebun-kebun, dialiri sungai-sungai dan dialasi oleh hamparan karpet, serta dihiasi dengan perhiasan yang elok. Lalu, orang itu mengatakan, bahwa istana dengan segala kesempurnaannya tersebut tercipta dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa pencipta. Maka, pasti Anda tidak akan percaya dan menganggap perkataan itu adalah perkataan dusta lagi dungu. Kini, kami bertanya pada Anda, “Masih mungkinkah alam semesta yang luas ini beserta apa-apa yang ada di dalamnya yang teratur sedemikian indahnya tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan?

Bukti Syara‘ tentang wujud Allah, adalah bahwa seluruh kitab langit berbicara tentang hal itu. Seluruh hukum yang mengandung ke-mashlahat-an manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil, bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb Yang Maha Bijaksana dan Mengetahui segala ke-mashlahat-an makhlukNya.

Bukti Indrawi tentang wujud Allah dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa, serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah.

Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah. Allah berfirman,

وَنُوحًا إِذْ نَادَى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيم

Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu, ketika ia berdo’a dan Kami memperkenankan do’anya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar.” )QS. Al-Anbiyaa, 76)

))إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِين ((

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut.” (QS. Al-Anfaal, 9)

b. Tanda-tanda para nabi yang disebut mukjizat, yang dapat disaksikan atau didengar oleh banyak orang.

Merupakan bukti yang sangat jelas tentang wujud Yang Mengutus para nabi tersebut, yaitu Allah. Karena hal-hal itu berada di luar kempampuan manusia. Allah melakukannya sebagai pemerkuat dan penolong bagi para rasul.

2. Mengimani Rububiyah Allah

Mengimani rububiyah Allah, maksudnya adalah mengimani sepenuhnya, bahwa Dia-lah Rabb satu-satunya, tiada sekutu dan tiada penolong bagi-Nya.

Rabb adalah Yang berhak menciptakan, memiliki, serta memerintah. Jadi, tidak ada Pencipta selain Allah, tidak ada Pemilik selain Allah dan tidak ada Perintah selain perintah dari-Nya. Tidak ada makhluk yang mengingkari ke-rububyiah-an Allah, kecuali orang yang yang congkak, sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapannya. Seperti yang dilakukan Fir’aun, ketika berkata kepada kaumnya, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi. (QS. An-Naazi’aat, 24)

Nabi Musa ‘alaihi `s salaam berkata kepada Fir’aun, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu, kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi, sebagai bukti-bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.(QS. Al-Israa’, 102)

Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan). Allah berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’ Maka, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf, 87)

Perintah Allah mencakup perintah alam semesta (kauni) dan perintah syara’ (syar’i). Dia adalah pengatur alam, sekaligus sebagai pemutus segala perkara, sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Dia juga pemutus peraturan-peraturan ibadah, serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Oleh karena itu, barangsiapa menyekutukan Allah dengan seorang pemutus ibadah atau pemutus muamalat, maka berarti dia telah menyekutukan Allah, serta tidak mengimani-Nya.

3. Mengimani Uluhiyah Alloh

Artinya, benar-benar mengimani, bahwa Dia-lah Ialah yang benar dan satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya. Al Ilaah artinya ‘al ma’luh, yakni sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan, serta pengagungan.

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم

Allah menyatakan, bahwasannya tidak ada Ilaah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilaah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali Imran, 18)

Allah berfirman tentang Latta, Uzza dan Manat yang disebut Tuhan, namun tidak diberi hak uluhiyah, “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka. Dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (QS. An Najm, 23)

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil tuhan selain Allah. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dan menyekutukan Allah.

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan orang-orang musyrik ini telah dibantah oleh Allah dengan dua bukti, yaitu:

a. Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan uluhiyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak memiliki hidup dan mati, tidak memiliki sedikitpun dari langit dan tidak pula ikut memiliki keseluruhannya;

b. Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui, bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang ditangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui,bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi-Nya. Ini mengharuskan pengesaan uluhiyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan rububiyah Allah.

4. Mengimani Asma dan Sifat Alloh

Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah, yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya sendiri dalam kitab suci-Nya, atau sunnah rasul-Nya dengan cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa tahrif (penyelewengan), ta’thil (penghapusan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamsil(menyerupakan). Allah berfirman,

وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al A’raaf, 180)

Dalam perkara ini ada dua golongan yang tersesat, yaitu:

a. Golongan Muaththilah

Yaitu, mereka yang mengingkari nama-nama Allah atau mengingkari sebagiannya saja. Menurut perkiraan mereka, menetapkan nama-nama dan sifat itu kepada Allah dapat menyebabkan tasybih (penyerupaan), yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Pendapat itu jelas keliru, karena:

  • Sangkaan itu akan mengakibatkan hal-hal yang bathil atau salah, karena Allah telah menetapkan untuk diri-Nya nama-nama dan sifat-sifat, serta me-nafii-kan sesuatu yang serupa dengan-Nya.
  • Kecocokan antara dua hal dalam nama atau sifatnya tidak mengharuskan adanya persamaan.

Anda melihat dua orang yang keduanya manusia, mendengar, melihat dan berbicara, tetapi tidak harus sama dalam makna-makna kemanusiaannya, pendengarannya, penglihatannya dan pembicaraannya. Apabila antara makhluk-makhluk yang cocok dalam nama dan sifatnya saja jelas memiliki perbedaan, maka tentu perbedaan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) akan lebih jelas lagi.

b. Golongan Musyabbihah

Yaitu, golongan yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat, tetapi menyerupakan Allah dengan nash-nash-Nya. Hal ini jelas keliru ditinjau dari beberapa hal, antara lain:

  • Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya jelas merupakan sesuatu yang bathil, menurut akal maupun syaraa’. Padahal, tidak mungkin nash-nash kitab suci Al Qur-an dan Sunnah Rasul menunjukkan sesuatu yang bathil.
  • Allah berbicara dengan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahami dari segi asal maknanya. Hakekat makna sesuatu yang berhubungan dengan zat dan sifat Allah adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah saja.

Apabila Allah memberitakan tentang diri-Nya, bahwa Dia bersemayam di atas Arsy-Nya, maka bersemayam dari segi asal maknanya sudah maklum, tetapi hakekat bersemayam-Nya Allah itu tidak dapat diketahui.

Di antara buah iman kepada Allah:

1. Merealisasikan pengesaan Allah, sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain dan tidak menyembah kepada selain-Nya;

2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi;

3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah, serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.

wallahu a’lam bi `sh shawwaab,

Jumat, 03 September 2010

CINTA KEPADA ALLAH

(MAHABBATULLAH)


Sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: "Apakah engkau mencintai Allah?" Ali ra menjawab, "Ya". Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?" Ali ra kembali menjawab, "Ya". Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya". Husain kecil kembali bertanya: "Apakah engkau mencintaiku?" Ali menjawab, "Ya". Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?" Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah". Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.

Seorang sufi wanita terkenal dari Bahsrah, Rabi'ah Al- Adawiyah (w. 165H) ketika berziarah ke makam Rasul Saw. pernah mengatakan: "Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku pada Allah Swt". Tentang cinta itu sendiri Rabiah mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal kecuali yang dicintainya. Bukan berarti Rabiah tidak cinta kepada Rasul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalah bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasul. Jadi mencintai Rasulullah Saw. sudah dihitung dalam mencintai Allah Swt. Seorang mukmin pecinta Allah pastilah mencintai apa apa yang di cintai-Nya pula. Rasulullah pernah berdoa: "Ya Allah karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih aku cintai dari pada air yang dingin."

Selanjutnya Rabiah -yang sangat terpandang sebagai wali Allah karena kesalehannya- mengembangkan konsep cinta yang menurut hematnya harus mengikuti aspek kerelaan (ridha), kerinduan (syauq), dan keakraban (uns). Selain itu ia mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus mengesampingkan dari cinta-cinta yang lain dan harus bersih dari kepentingan pribadi (dis-interested). Cinta kepada Allah tidak boleh mengharapkan pahala atau untuk menghindarkan siksa, tetapi semata-mata berusaha melaksanakan kehendak Allah, dan melakukan apa yang bisa menyenangkan-Nya, sehingga Ia kita agungkan. Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahannya yang sempurna. Rumusan cinta Rabiah dapat di simak dalam doa mistiknya: "Oh Tuhan, jika aku menyembahmu karena takut akan api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu karena berharap surga, maka campakanlah aku dari sana; Tapi jika aku menyembahmu karena Engkau semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi."

Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. "(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. 5: 54). Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).

Menurut Sang Hujjatul Islam ini kata mahabbah berasal dari kata hubb yang sebenarnya mempunyai asal kata habb yang mengandung arti biji atau inti. Sebagian sufi mengatakan bahwa hubb adalah awal sekaligus akhir dari sebuah perjalanan keberagamaan kita. Kadang kadang kita berbeda dalam menjalankan syariat karena mazhab/aliran. Cinta kepada Allah -yang merupakan inti ajaran tasawuf- adalah kekuatan yang bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu.

Bayazid Bustami sering mengatakan: "Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang di peroleh kekasih, meskipun itu sedikit." Kata-kata arif dari sufi pencetus doktrin fana' ini dapat kita artikan bahwa ciri-ciri seorang yang mencintai Allah pertama adalah rela berkorban sebesar apapun demi kekasih. Cinta memang identik dengan pengorbanan, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga sekalipun. Hal ini sudah di buktikan oleh Nabi Muhammad Saw., waktu ditawari kedudukan mulia oleh pemuka Quraisy asalkan mau berhenti berdakwah. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Rasulullah mengatakan kepada pamannya: "Wahai pamanku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa". Ciri kedua dari pecinta adalah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa- apa yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.

Jiwa para pecinta rindu untuk berjumpa dan memandang wajah Allah yang Maha Agung.. "Orang orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka "'(QS. 2: 46). Tentang kerinduan para pecinta terhadap Allah Swt., sufi besar Jalaluddin Rumi menggambarkan dalam matsnawi sebagai kerinduan manusia pada pengalaman mistikal primordial di hari "alastu" sebagai kerinduan seruling untuk bersatu kembali pada rumpun bambu yang merupakan asal muasal ia tercipta. Hidup di dunia merupakan perpisahan yang sangat pilu bagi para pecinta, mereka rindu sekali kepada Rabbnya seperti seseorang yang merindukan kampung halamannya sendiri, yang merupakan asal-usulnya. Jiwa para pecinta selalu dipenuhi keinginan untuk melihat Allah Swt. dan itu merupakan cita-cita hidupnya. Menurut Al-Ghazali makhluk yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat kecintaannya kepada Allah Swt. Menurutnya, ar-ru'yah (melihat Allah).merupakan puncak kebaikan dan kesenangan. Bahkan kenikmatan surga tidak ada artinya dengan kenikmatan kenikmatan perjumpaan dengan Allah Swt. Meminta surga tanpa mengharap perjumpaan dengan-Nya merupakan tindakan "bodoh" dalam terminologi sufi dan mukmin pecinta.

"Shalat adalah mi'rajnya orang beriman" begitulah bunyi sabda Nabi Saw. untuk menisbatkan kualitas shalat bagi para pecinta. Shalat merupakan puncak pengalaman ruhani di mana ruh para pecinta akan naik ke sidratul muntaha, tempat tertinggi di mana Rasulullah di undang langsung untuk bertemu dengan-Nya. Seorang Aqwiya (orang-orang yang kuat kecintaannya pada Tuhan) akan menjalankan shalat sebagai media untuk melepaskan rindu mereka kepada Rabbnya, sehingga mereka senang sekali menjalankannya dan menanti-nanti saat shalat untuk waktu berikutnya, bukannya sebagai tugas atau kewajiban yang sifatnya memaksa. Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: "Ada hamba yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum pedagang. Ada hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya budak, dan ada sekelompok hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah Swt, itulah ibadahnya orang mukmin". Seorang pecinta akan berhias wangi dan rapi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang paling ia sukai sekalipun. Bahkan mereka kerap kali menangis dalam shalatnya. Kucuran air mata para pecinta itu merupakan bentuk ungkapan kerinduan dan kebahagiaan saat berjumpa dengan-Nya dalam sholatnya.

Mencintai Allah Swt. bisa di pelajari lewat tanda-tanda-Nya yang tersebar di seluruh ufuk alam semesta. Pada saat yang sama, pemahaman dan kecintaan kepada Allah ini kita manifestasikan ke bentuk yang lebih nyata dengan amal saleh dan akhlakul karimah yang berorientasi dalam segenap aspek kehidupan.

Ada sebuah cerita, seorang sufi besar bernama Abu Bein Azim terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang Malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu Bein bertanya: "Apa yang sedang anda kerjakan?" Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan. Abu Bein ingin sekali namanya tercantum. Dengan cemas ia melongok daftar itu, tapi kemudian ia gigit jari, namanya tidak tercantum di situ. Ia pun bergumam: "Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia". Esok harinya ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi. Abu Bein terkejut karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun protes: "Aku bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia". Malaikat itu berkata: "Baru saja Tuhan berkata kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia".

Mencintai Allah bukan sebatas ibadah vertikal saja (mahdhah), tapi lebih dari itu ia meliputi segala hal termasuk muamalah. Keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas ini pernah di tekankan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadits qudsi: "Aku tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil), melainkan karena ia memberi makan fakir miskin dan shalat ketika orang-orang terlelap tidur". Jadi cinta kepada Allah pun bisa diterjemahkan ke dalam cinta kemanusiaan yang lebih konkrit, misalnya bersikap dermawan dan memberi makan fakir miskin. Sikap dermawan inilah yang dalam sejarah telah di contohkan oleh Abu bakar, Abdurahman bin Auf, dan sebagainya. Bahkan karena cintanya yang besar kepada Allah mereka memberikan sebagian besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit saja untuk dirinya. Mencintai Allah berarti menyayangi anak-anak yatim, membantu saudara saudara kita yang di timpa bencana, serta memberi sumbangan kepada kaum dhuafa dan orang lemah yang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw. pernah bersabda ketika ditanya sahabatnya tentang kekasih Allah (waliyullah). Jawab beliau: "Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, dengan ruh Allah, bukan atas dasar pertalian kerluarga antara sesama mereka dan tidak pula karena harta yang mereka saling beri." Menurut Nurcholish Madjid, yang di tekankan dalam sabda Nabi tersebut adalah perasaan cinta kasih antar sesama atas dasar ketulusan, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.


Senin, 23 Agustus 2010

pearl words


  • Semakin Anda memahami lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda, semakin bergairah dan penasaran terhadap kenyataan hidup dalam hidup Anda.
  • Gairah adalah salah satu elemen pokok yang meringankan upaya dan mengubah kegiatan-kegiatan yang biasa-biasa saja menjadi suatu pekerjaan yang dapat dinikmati.
  • Semakin besar “Mengapa” Anda akan semakin besar energi yang mendorong Anda untuk meraih sukses.
  • Mimpi tidak hanya membantu Anda berhadapan dengan kegagalan, tetapi mereka juga memotivasi Anda secara konstan.
  • Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok.
  • Anda bisa, jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah masuk akal.
  • Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam menjaga alasan melakukan sesuatu.
  • Apakah kita bisa untuk mengemban misi kita? Insya Allah kita bisa, karena Allah Mahatahu, Allah tahu sampai dimana potensi dan kemampuan kita. Jika kita tidak merasa mampu berarti kita belum benar-benar mengoptimalkan potensi kita.
  • Jika target obsesi itu baik, maka memiliki obsesi bukan hanya baik, tetapi harus. Karena motivasi dari sebuah obsesi sangat kuat.
  • Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah sebuah rencana untuk mencapainya.
  • Bisakah kita meraih sukses yang lebih besar lagi?
  • Merumuskan Visi dan Misi adalah salah satu bentuk dalam mengambil keputusan, bahkan pengambilan keputusan yang cukup fundamental. Visi dan Misi Anda akan menjiwai segala
    gerak dan tindakan di masa datang.
  • Jangan takut dengan gagalnya meraih visi, kegagalan meraih visi sebenarnya bukan suatu kegagalan, tetapi merupakan keberhasilan yang Anda tempuh meski tidak sepenuhnya.
  • Visi itulah yang akan menuntun perjalanan hidup Anda.
  • Menciptakan kebiasaan baru adalah salah satu dari kunci sukses. Jika anda ingin sukses Anda harus mulai menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang akan membawa Anda kepada kesuksesan.
  • Jika Anda ingin menang— dalam bisnis, karir, pendidikan, olah raga, dsb— maka Anda harus memiliki kebiasaan-kebiasaan seorang pemenang pula.
  • Jika Anda ingin suatu kehidupan yang berbeda, buatlah keputusan yang berbeda juga.
  • Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.
  • Potensial pilihan Anda begitu melimpah, keputusan Anda dapat saja merubah hidup Anda secara dramatis dalam waktu singkat.
  • Hanya satu motivasi yang ada, yaitu Allah. Adapun motivasi lainnya harus dalam rangka “karena dan/atau untuk” Allah

my album exact 3


Hargai Milikmu

Hargailah segala yang kau miliki; anda akan memiliki lebih lagi. Jika anda fokus pada apa yang tidak anda miliki, anda tidak akan pernah merasa cukup dalam hal apapun.

Be thankful for what you have; you’ll end up having more. If you concentrate on what you don’t have, you will never, ever have enough.